TOKOH-TOKOH DAN PEMIKIRAN ALIRAN ASY'ARIYAH
- Abu Hasan Al-Asy'Ari
Abu Hasan Al-Asy'Ari nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali Ibn Ismail Ibn Abu Basyr Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ib Musa Ibn Bilal Ibn Abu Burdah Ibn Abu Musa Al-Asy'Ari. lahir di Kota Basrah (Irak) pada tahun 260 H/873M serta wafat pada tahun 324/935 M, Keturunan Abu Musa Al-Asy'Ari seorang sahabat dan perantara dalam sengketa antara Ali dan Muawiyyah dalam peristiwa tahkim. Pada usia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke Kota Baghdad. Ayahnya adalah seorang yang berpaham ahlussunnah dan ahli hadist. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Sebelum wafat ayahnya berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya as-Saji agar mendidik Al-Asy'Ari. Ibu Asy'Ari sepeninggal ayahnya menikah lagi dengan tokoh Mu'tazilah yang bernama Al-Juba'i. Berkat didikan ayah tirinya, Asy'Ari kemudian menjadi tokoh Mu'tazilah. Ia sering menggantikan Al-Juba'I dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu'tazilah.
Untuk melihat pemikiran-pemikiran Al-Asy'Ari di bidang teologi hasil rumusannya, dapat dilihat dari buku-buku hasil karyanya, antara lain : Kitab al-Luma' Fi al-Rad 'ala Ahl Al-Ziagh wa Al-Bida' (sorotan); yang dimaksudkan adalah untuk membantah lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu kalam. Al-Ibanah 'an Usul al-Dianah (Penjelasan tentang dasar-dasar agama). Buku yang pertama kali disusun adalah al-Maqolat al-Islamiyah (Pendapat golongan-golongan Islam). Tiga buku inilah karangan Al-Asy'Ari yang terkenal sampai sekarang. Menurut suatu keterangan ia telah Menyusun buku sebanyak lebih kurang 90 buku. Berikut adalah beberapa pokok pikiran Al-Asy'Ari :
- Sifat Tuhan
Menurut Al-Asy'Ari Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kata Al-Asy'Ari Tuhan mengetahui dengan Dzat-Nya karena demikian dzat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhank bukan pengetahuan tetapi Yang Mengetahui, Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-Nya bukanlah dzat-Nya. Demikian pula, dengan sifat-sifat seperti sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. Dalil naql yang dijadikan dasar oleh Asy'Ari antara lain :
- QS. An-Nisaa' ayat 166
﴿ لٰكِنِ اللّٰهُ يَشْهَدُ بِمَآ اَنْزَلَ اِلَيْكَ اَنْزَلَهٗ بِعِلْمِهٖ ۚوَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَشْهَدُوْنَ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۗ ١٦٦ ﴾
166. Akan tetapi, Allah bersaksi atas apa (Al-Qur'an) yang telah diturunkan-Nya kepadamu (Nabi Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya. (Demikian pula) para malaikat pun bersaksi. Cukuplah Allah menjadi saksi.
- QS. Fushshilat ayat 47
﴿ ۞ اِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۗوَمَا تَخْرُجُ مِنْ ثَمَرٰتٍ مِّنْ اَكْمَامِهَا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ اُنْثٰى وَلَا تَضَعُ اِلَّا بِعِلْمِهٖ ۗوَيَوْمَ يُنَادِيْهِمْ اَيْنَ شُرَكَاۤءِيْۙ قَالُوْٓا اٰذَنّٰكَ مَا مِنَّا مِنْ شَهِيْدٍ ۚ ٤٧ ﴾
47. Hanya kepada-Nya pengetahuan tentang hari Kiamat itu dikembalikan.Tidak ada sama sekali buah-buahan yang keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan semuanya dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?" Mereka menjawab, "Kami menyatakan kepada-Mu bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat memberi kesaksian (bahwa Engkau mempunyai sekutu)."
- QS. Hud ayat 14
﴿ فَاِلَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اُنْزِلَ بِعِلْمِ اللّٰهِ وَاَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚفَهَلْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٤ ﴾
14. Jika mereka tidak memenuhi ajakanmu, (katakanlah,) "Ketahuilah sesungguhnya ia (Al-Qur'an) itu diturunkan dengan ilmu Allah dan (ketahui pula) bahwa tidak ada tuhan kecuali Dia. Apakah kamu mau berserah diri (masuk Islam)?"
- QS. An-Nisaa' ayat 166
- Kedudukan Al-Qur'an
Menurut Al-Asy'Ari, Al-Qur'an adalah kalamullah dan bukan mahkluk. Bagi Al-Asy'Ari Al-Qur'an tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, maka sesuai dengan ayat QS. An-Nahl ayat 40 :
﴿ اِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ اِذَآ اَرَدْنٰهُ اَنْ نَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ࣖ ٤٠ ﴾
40. Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, hanya (dengan) berfirman kepadanya, "Jadilah!" Maka, jadilah sesuatu itu.
Untuk penciptaan itu perlu kata kun, dan untuk terciptanya kun ini perlu pula kata kun yang lain; begitulah seterusnya sehingga terdapat rentetan kata-kata kun yang tdak berkesudahan. Dan ini tidak mungkin. Oleh karena itu Al-Qur'an tidak mungkin diciptakan.
- Melihat Allah
Menurut Al-Asy'Ari, Tuhan dapat dilihat di akhirat. Diantara alasan-alasan yang dikemukakannya, ialah bahwa sifat-sifat yang tak dapat diberikan kepada Tuhan hanyalah sifat-sifat yang akan membawa kepada arti diciptakannya Tuhan. Sifat dapatnya Tuhan dilihat tidak membawa kepada hal ini, karena apa yang dapat dilihat itu tidak mesti berarti bahwa Tuhan harus bersifat diciptakan. Dengan demikian kalau dikatakan Tuhan dapat dilihat itu tidak mesti berarti bahwa Tuhan harus bersifat diciptakan.
- Perbuatan Manusia
Dalam perbuatan manusai terdapat dua daya, daya Allah dan daya manusia, namun yang efektif adalah daya Allah bukan daya manusia. Perbuatan manusia bukanlah diwujudkan oleh manusia sendiri, akan tetapi diciptakan oleh Tuhan. Perbuatan manusia tidak akan terlepas dari kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Menurut pendapatnya, manusia tidak mampu menciptakan apapun, bahkan sebenarnya manusialah yang diciptakan. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT pada QS. Al-Insaan ayat 30 :
﴿ وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ٣٠ ﴾
30. Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Perbuatan kufr adalah buruk, dan iman itu baik tetapi berat dan sukar. Orang kafir, ingin agar perbuatan kufr itu baik dan benar, namun kenyataannya tetap tidak seperti yang diharapkan. Demikian pula, orang mukmin ingin agar perbuatan iman itu tidak berat dan tidak sukar, namun kenyataannya juga tidak seperti yang dikehendaki. Dengan demikian, kufur tidak mungkin diciptakan oleh orang kafir yang tidak mampu merubahnya menjadi baik dan benar. Bagitu pula, iman bukanlah diciptakan oleh orang mukmin yang tidak mampu merubahnya menjadi ringan dan gampang. Yang menciptakan kufur dan iman itu pada hakikatnya adalah Allah, Tuhan semesta alam.
- Keadilan Allah
Al-Asy'Ari menentang paham keadilan Tuhan yang dibawa kaum Mu'tazilah. Menurut pendapatnya, Tuhan berkuasa mutlak dan taka da satupun yang wajib bagi-Nya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga kalau ia memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Ia bersifat tidak adil dan jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah Ia bersifat dzalim. Dengan demikian ia juga tidak setuju dengan ajaran Mu'tazilah tentang al-wa'd wa al-wa'id yakni janji dan ancaman. Menurut Al-Asy'Ari. Allah tidak wajib menepati janji dan ancaman yang banyak ditegaskan di dalam Al-Qur'an. Karena tidak ada hukum wajib yang boleh diberlakukan atas perbuatan Allah.
- Anthropomorphisme (Dalil yang memberikan Kesan Tasybih)
Dalam memahami dalil-dalil yang berhubungan dengan wujud Tuhan, Al-Asy'Ari berpegang pada arti lafdzi dan tidak mau menakwilkannya, seperti pada :
- QS. Al-Qiyamah : 22-23 di bawah ini :
﴿ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣ ﴾
22. Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. 23. (karena) memandang Tuhannya.
Kata nadziroh, pada ayat di atas diartikan melihat langsung dengan mata biasa.
- QS. Shad : 75 dan QS. Al-Fath : 10
﴿ قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ ٧٥ ﴾
75. (Allah) berfirman, "Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?" QS. Shad ayat 75
﴿ اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗيَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ١٠ ﴾
10. Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan692) Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar.
Kata Yad Allah diartikan sebagai tangan Tuhan. Semua dalil naql yang memberi kesan tasybih tidak dapat ditentukan atau dibayangkan ( bi la kaifa) yang jelas tidak sama dengan mahkluk.
- QS. Al-Qiyamah : 22-23 di bawah ini :
- Pelaku Dosa Besar
Menurut Al-Asy'Ari, pelaku dosa besar tetap mukmin, karena imannya masih ada, tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq.
- Sifat Tuhan
- Al-Baqillani
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Thayyib bin Muhammad bin Ja'far bin Al-Qasim, yang lebih dikenal dengan al-Qadhi Abu Bakr Al-Baqillani, di samping sebagai mutakkalim, beliau juga ahli ushul fikih, lahir di Bashrah dan menetap di Baghdad, tentang tahun kelahirannya tidak ada sumber yang pasti menyebutnya. Beliau merupakan tokoh penting pertama setelah pendiri aliran Asy'Ariyah.
Ia berguru dari sejumlah ulama di berbagai displin ilmu, yaitu Abu Abdullah bin Muhammad bin Ya'kub bin Mujahid al-Thaiy al-Malikiy (sahabat dan murid al-As'Ary), Abu Bakr Ahmad bin Ja'far bin Malik al-Qathi'iy, Abu Bakr Muhammad bin Abdullah Al-Abhariy ialah seorang alim faqih bermazhab Maliki. Berbeda dengan kebanyakan tokoh Asy'Ariyah lainnya yang bermazhab fikih Syafi'iyah, Al-Baqillani adalah pengikut mazhab fikih Malikiyah.
Adapun karya beliau, Ibn Katsir menyebutkan bahwa beliau tidak tidur setiap malam, kecuali setelah menulis 20 lembar, dan tercatat hasil karya beliau antara lain; kitab al-Tabshirah, Daqaiq al-Haqaiq, Al-Tamhid fi Ushul al-Fiqh, Sayrh al-Ibanah, dan lain-lain. Al-Qadiy 'Ayyadh menyebutkan bahwa karya Al-Baqillani ada 99 kitab dalam masalah teologi, ushul, fikih, dan I'jaz al-Qur'an, tapi yang ada sampai saat ini hanya Sebagian kecil. Al-Baqillani wafat pada tahun 403 H di Baghdad dan dimakamkan di samping makam Ahmad bin Hanbal di perkuburan Bab al-Harb.
Al-Baqillani berjasa mengembangkan metode dalam teologi Asy'Ariyah. Beliau mengembangkan metode (thariqah) dan meletakkan premis-premis logika yang menjadi dasar pijakan dalil-dalil dan teori-teori, seperti menetapkan subtansi primer (al-jauhar al-Fard) dan void (al-khala), dan accident (al-'ardh) tidak mungkin berdiri di atas accident (al-'ardh), tidak mungkin dua waktu yang bersamaan, dan semisalnya yang menjadi dasar pijakan dalil-dalil mereka dan menjadikan kaidah-kaidah sebagai dasar untuk menetapkan kewajiban dalam beraqidah, karena kesalahan atau tidak benarnya suatu dalil berarti tidak benar pula apa yang menjadi objek suatu dalil. Maka metode ini merupakan metode yang terbaik dalam ilmu-ilmu teori dan agama.
Pemikiran Al-Baqillani tidak begitu saja menerima ajaran-ajaran Al-Asy'Ari. dalam beberapa hal ia tidak sepaham dengan Al-Asy'Ari. Berikut adalah beberapa pemikiran Al-Baqillani :
- Sifat Tuhan
Menurut Al-Baqillani sifat Allah bukanlah sifat, tetapi hal, sesuai dengan pendapat Abu Hasyim dari Mu'tazilah. Al-Baqillani membagi sifat-sifat Allah menjadi dua bagian, yakni :
- Sifat-sifat al-zat, adalah sifat yang tidak mungkin berpisah dengan zat. Contoh: sifat Al-'Ilm misalnya tidak mungkin berpisah dengan zat Allah yang Al-'Alim setiap saat sejak azali dan selama-lamanya.
- Sifat-sifat Al-Af'al, merupakan sifat-sifat Allah yang berhubungan dengan perbuatannya karena Allah SWT, ada sebelum perbuatannya itu ada.
- Perbuatan Manusia
Menurut Al-Baqillani, manusia mempunyai sumbangan yang efektif dalam perwujudan perbuatannya. Yang diwujudkan Tuhan ialah gerak yang terdapat dalam diri manusia. Adapun bentuk atau sifat dari gerak itu dihasilkan oleh manusia sendiri. Dengan kata lain, gerak dalam diri manusiamengambil berbagai bentuk, duduk, berdiri, berbaring, berjalan, dan sebagainya. Gerak sebagai jenis adalah ciptaan Tuhan, tetapi duduk, berdiri, berbaring, berjalan dan sebagainya yang merupkan spectes dari gerak adalah perbuatan manusia. Manusialah yang membuat gerak, yang diciptakan Tuhan itu, mengambil bentuk sifat duduk, berdiri dan sebagainya. Dengan demikian, bagi Al-Baqillani daya itu mempunyai efek.
- Sifat Tuhan
- Al-Juwainy (419-478 H /1028-1085 M)
'Abd. Al-Malik Al-Juwaini yang juga terkenal dengan nama Imam Al-Haramain. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Ma'ali Abd. Al-Malik Ibn Abi Muhammad Abdullah Ibn Yusuf Al-Juwaini. Lahir di Khurasan pada tanggal 18 Muharram 419 H dan wafat pada tanggal 25 Rabiul Akhir 478 H di Naisabur dan dimakamkan di samping ayahnya. Beliau pernah menetap dan menyebarkan ilmu di Madinah dan Mekkah selama empat tahun sehingga mendapat julukan mulia sebagai Imam Al-Haramain dan Dhiya Al-Din. Dari Mekkah ia kembali ke daerah asalnya Naisabur dan mengajar di perguruan Nizhamiah yang dibangun oleh Nizham al-Muluk.
Al-Juwaini belajar dari sejumlah ulam antara lain dari ayahnya sendiri Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini, seorang ulama Al-Syafi'i dan belajar hadis dari ulama-ulama besar yang ada saat itu. Adapun hasil karya beliau, antara lain; kitab Al-Nihaya (bidang fikih), Al-Syamil dan Al-Irsyad (bidang Theologi), al-Burhan dan Talkhish al-Gharib wa al-Irsyad (Ushul Fikih). Dalam metode dan pemikiran kalamnya, Al-Juwaini berupaya memadukan antara metode naqli dan aqli. Berikut adalah pemikiran-pemikiran Al-Juwaini :
- Sifat Tuhan
Dalam hal ini Al-Juwaini sependapat dengan Al-Asy'Ari yang mengatakan bahwa zat Tuhan qadim dan sifat Tuhan juga qadim. Sifat bukanlah zat dan bukan pula selain zat. Zat Tuhan qadim dengan sifatnya dan tidak mungkin menggambarkan zat tanpa sifat. Ini buka berarti bahwa zat merupakan tempat berdirinya sifat, tetapi zat berdiri sendiri dan adanya sifat karena adanya zat.
- Perbuatan Manusia
Mengenai perbuatan manusia Al-Juwaini melangkah lebih maju dari Al-Baqillani. Daya yang ada pada manusia dalam pendapat Al-Juwaini juga mempunyai efek. Tetapi efeknya serupa dengan efek yang terdapat antara sebab dan musabab. Wujud perbuatan tergantung pula pada sebab lain, dan wujud sebab ini bergantung pula pada sebab lain lagi dan demikianlah seterusnya sehingga sampai kepada sebab dari segala sebab yaitu Tuhan.
Kelihatannya, Beliau menghindari pemikiran Al-Asy'Ari yang berhaluan Jabariyah sekaligus menolak pemikiran Mu'Tazilah yang Qadariyah. Beliau ingin menawarkan alternative untuk ukuran masa itu. Namun ternyata pemikirannya ini lebih dekat dengan paham Mu'tazilah tentang qasuality. Ahmad Amin mengatakan bahwa Al-Juwaini kembali kepada ajaran Mu'tazilah melalui jalan yang berkelok-kelok.
- Anthropomorphisme atau Tasybih
Al-Juwaini berpendapat bahwa jika kita bertemu dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang secara Lafdziyah menunjukkan bahwa wujud Allah mempunyai bagian-bagian, maka ayat tersebut harus dita'wilkan. Seperti "mata Tuhan" diartikan "Penglihatan Tuhan", dan "Wajah Tuhan" diartika "Wujud Tuhan". Dan keadaan Tuhan duduk di atas tahta kerajaan diartikan "Tuhan berkuasa dan Maha Tinggi". Dia mengemukakan alasan bahwa apabila Allah mempunyai tangan, muka dan lain sebagainya, berarti Allah mempunyai kesamaan dengan mahkluk, bila sama berarti Allah baru, bila Allah baru mustahil menjadi Tuhan.
- Melihat Tuhan
Mengenai melihat Allah, Al-Juwaini mengemukakan bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata, karena Allah ada dan semua yang ada dapat dilihat. Kesempatan melihat Tuhan belum diberikan di dunia tetapi nanti di surga. Ini dipahami Al-Juwaini dari QS. Al-Qiyamah ayat 22-23 :
﴿ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣ ﴾
22. Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. 23. (karena) memandang Tuhannya.
- Kalam Tuhan
Al-Juwaini berpendapat bahwa Al-Qur'an itu qadim. Namun yang qadim itu adalah yang tersirat di balik susunan huruf-huruf yang terdapat di dalam Al-Qur'an yang kita baca yang mengandung lafal dan suara. Al-Qur'an yang ditulis atau dicetak hanyalah alat bantu untuk memahami kalam yang hakiki.
- Sifat Tuhan
- Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad bin Ahmad, Imam besar Abu Hamid Al-Ghazali Hujjatul Islam. Beliau lahir pada tahun 450 H/1058 M di desa Gazlah di daerah Thus (dekat Meshed) sebuah kota kecil di Khurasan (sekarang Iran), disini pula Al-Ghazali wafat di Nazran tahun 505 H/1111 M. Al-Ghazali merupakan pengikut Al-Asy'Ari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran Ahlussunah wal Jama'ah.
Beliau adalah pemikir ulung Islam yang menyandang gelar "Pembela Islam" (Hujjatul Islam), Hiasan Agama (Zainuddin), samudra yang menghanyutkan (bahrun mughriq), dan pembaharu agama. Gelar ini didasarkan pada keluasan ilmu dan amalnya serta hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam mempertahankan ajaran agama dari berbagai serangan.
Al-Ghazalli adalah orang yang pertama kali menggabungkan antara sufisme dan syari'ah dalam satu sistem. Ia belajar ilmu pertama kali pada seorang sufi di negara Thus, kemudian Beliau pindah ke Jurian dan Naisabur untuk belajar ilmu agama pada ulama besar yang termashur yaitu Imam al-Haramain Diya Al-Din Al-Juwaini, seorang direktur sekolah di Naisabur. Diantara ilmu yang dipelajari di madrasah itu adalah teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam. Pada tahun 478 H/1058 M, Al-Ghazali bermukin di Al-Muaskar dan kemudian pindah ke Baghdad untuk menjadi dosesn di Pergurun Tinggi Nidzamiyah pada tahun 484 H/1091 M.
Berbeda dengan gurunya Al-Baqillani dan Al-Juwaini, paham teologi yang dimajukannya boleh dikatakan tidak berbeda dengan paham-paham Al-Asy'Ari. berikut adalah pemikiran Al-Ghazali :
- Tuhan mempunyai sifat-sifat Qadim yang tidak identic dengan zat Tuhan dan mempunyai wujud di luar zat.
- Al-Qur'an bersifat qadim dan tidak diciptakan.
- Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan manusia.
- Tuhan dapat dilihat karena riap-tiap yang mempunyai wujud dapat dilihat.
- Menolak paham keadilan yang ditimbulkan kaum Mu'tazilah. Tuhan tidak wajib menjaga kemaslahatan manusia, tidak wajib memberi upah atau ganjaran pada manusia atas perbuatan-perbuatannya, bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tak dapat dipikul kepada manusia. Tuhan berkuasa mutlak dan tidak akan bertentangan dengan sifat-sifat ketuhanan-Nya, jika atas kehendak-Nya, Allah menghancurkan mahkluk-Nya atau memberi ampun kepada semua orang kafir dan menghukum semua orang mukmin.
Pengaruh Al-Ghazali yang luar biasa, membuat paham Asy'Ariyah bertahan di bawah citranya, tumbuh berkembang, berurat akar, dan menyebar di seantero dunia. Pengaruh luar biasa dari Al-Ghazali membuat ajaran dan penjelasan kalam serta citranya melebihi pengaruh sang pendiri al-Asy'Ari.